Oleh: Fildzah Husna Amalina (PWK UGM 2014)
Kepala Divisi Pendidikan, Penenlitian, dan Profesi HMTPWK UGM 2016/2017
Saya sedang tidak ingin menyalahkan Tuhan, tapi toh pada kenyataannya dunia ini memang nggak adil. Manusia hidup dengan ketimpangan; kaya-miskin, jelek-rupawan, pintar-bodoh, kurus-gendut, takut-berani; semuanya tanpa alasan yang jelas kenapa kita dapatkan, yang penting ikhlas dan bersyukur; kita dituntut untuk hidup dengan keadaan dan takdir. Terserah masih ingin mempertanyakan atau tidak, tapi tulisan ini mengasumsikan bahwa kita semua sudah berdamai dengan keputusan Tuhan.
Namun yang justru terjadi adalah banyak ketidakadilan terpresepsikan sebagai hal yang normal, wajar, tidak salah: “ya namanya juga miskin, lingkungannya nggak sehat nggak apa apa” atau “ya namanya juga kumuh begitu harus dipindah nggak apa apa”. Entah bagaimana, kadang “kedamaian” itu justru membuat kita menjadi sekelompok manusia penuh tuna: buta, tuli, bisu, terbelakang, tidak berkembang. Kita menjadi terbiasa melihat ketidakadilan sebagai takdir Tuhan. Berdamai dengan keputusan Tuhan, bukan begitu bentuknya.
Dalam konteks kehidupan kota, saya menyoroti pembangunan bertumbal. Karena mau dibuat taman, permukiman kumuh harus pindah. Pertanyaannya adalah kenapa mereka yang harus pindah? Kenapa bukan yang di kompleks perumahan yang pindah? Padahal seharusnya kedua golongan ini mempunyai derajat yang sama: sama-sama manusia. Ketika pejabat-pejabat kemudian menyanggah bahwa keputusan itu sudah ada dalam aturan perencanaan, saya justru mempertanyakan: kenapa membuat aturan yang harus menumbalkan satu golongan? Perencanaan itu sudah salah dari awalnya. Ketika muncul sekelompok orang yang mengaku sebagai pemuja estetika dan mengatakan kekumuhan harus dihilangkan, saya justru balik bertanya: kenapa manusianya yang harus dihilangkan sementara estetika itu bisa dibuat dengan adanya mereka disana? Bukan sudah hilanh empati, tetapi kebanyakan dari kita masih berpikiran sempit karena terlalu berdamai dengan hidup. Slogan “Kita semua sama” adalah hal yang menurut saya paling sulit diwujudkan dalam konteks kehidupan nyata perkotaan hingga saat ini.
Saya tau bahwa saya sedang membuat generalisasi dan kondisi lapangan tentu tidak ideal dan jauh lebih kompleks. Tetapi cobalah sekali-sekali keluar dari kompleks perumahan atau apartemenmu. Lihat, dengar, rasakan, dan buka pikiranmu: pergilah ke kampung-kampung kota, permukiman kumuh, pedagang kaki lima. Kamu akan menemukan esensi dari “berdamai dengan Tuhan” yang benar. Kamu akan menemukan kehidupan lain, kehidupan dengan cara yang berbeda, perspektif akan keindahan dan keteraturan yang jauh lebih hakiki.